Perang Siffin: Jejak Pertempuran Ali dan Muawiyah di Iraq
Sejarah Baghdad
Diterbitkan: 2026-10-10 | Ziarah Iraq
Perang Siffin: Jejak Pertempuran Ali dan Muawiyah di Iraq
Di gurun pasir timur Najaf, kira-kira 180 kilometer dari Baghdad menuju selatan, terhampar sebuah dataran luas yang dikenal sebagai Siffin. Ribuan tahun lalu, dataran tandus ini menjadi saksi bisu salah satu peristiwa paling menentukan dalam sejarah Islam — Perang Siffin antara Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. dan Muawiyah bin Abi Sufyan pada tahun 37 Hijriah (657 Masehi). Perang ini bukan sekadar konflik kekuasaan; ia adalah luka mendalam yang membentuk arah sejarah umat Islam hingga hari ini.
"Jika kalian mengikuti saya, saya akan memimpin kalian. Jika kalian memerintahkan saya, saya akan taat kepada kalian." — Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra.
Latar Belakang: Krisis Setelah Syahidnya Utsman
Peristiwa yang melahirkan Perang Siffin bermula dari syahidnya Khalifah Utsman bin Affan ra. pada tahun 35 Hijriah di Madinah. Pembunuhan khalifah yang sah ini mengguncang seluruh dunia Islam dan menciptakan kekosongan kepemimpinan yang sangat kritis. Ketika Sayyidina Ali ra. dilantik sebagai khalifah keempat, beliau menghadapi situasi yang luar biasa berat — masyarakat terpecah, pendendam menuntut keadilan, dan ketidakstabilan mengancam dari segala penjuru.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Ali ra. adalah tuntutan agar segera menuntut pembunuhan Utsman ra. Namun Ali ra. memilih jalur yang berbeda: beliau mengutamakan stabilitas umat dan menegakkan hukum secara terukur. Belum sempat beliau menyelesaikan agenda internal, Muawiyah bin Abi Sufyan, Gubernur Syria yang juga kerabat Utsman ra., bangkit menuntut balas dengan menolak mengambil bai'at kepada Ali ra.
Persiapan Menuju Medan Siffin
Muawiyah menggerakkan pasukan Syria yang sangat besar dan terlatih menuju Irak. Sementara itu, Ali ra. yang berbasis di Kufah — kota yang kelak menjadi pusat kekuasaan beliau — mengumpulkan pasukan dari berbagai suku Arab. Pertempuran yang dinanti-nanti akhirnya terjadi pada bulan Syawal tahun 37 Hijriah, di dataran Siffin yang terletak antara Kufah dan Syria.
Kedua pihak melakukan tawar-menawar damai beberapa kali sebelum pertempuran meletus. Ali ra. dikenal sangat menghindari pertumpahan darah sesama Muslim. Namun ketika diplomasi gagal total, peperangan pun tidak terhindarkan. Pertempuran berlangsung sengit selama lebih dari sebulan, dengan ribuan korban jatuh di kedua belah pihak. Kota Baghdad yang kelak akan menjadi pusat peradaban Islam hanya berjarak beberapa jam perjalanan dari medan pertempuran ini, dan gema perang Siffin membentuk dinamika politik yang mengarah pada pembangunan Baghdad di masa-masa mendatang.
Peristiwa "Hakam" dan Selesainya Perang
Ketika pertempuran berada di puncak ketegangan, Muawiyah memerintahkan pasukannya mengangkat halaman-halaman Al-Qur'an di ujung tombak seraya berseru agar sengketa diselesaikan dengan hukum Al-Qur'an. Ini adalah taktik yang sangat cerdik secara politik. Ali ra. yang menghendaki keadilan sesuai syariat pun memerintahkan pasukannya menghentikan pertempuran dan menerima tahkim (arbitrase) — pengadilan yang memilih dua hakim dari masing-masing pihak.
"Janganlah kalian memutuskan sesuatu di antara kalian sendiri tanpa Allah dan Rasul-Nya." — QS. Al-Imran [3]: 103
Hasil tahkim ternyata berpihak kepada Muawiyah, karena hakim yang mewakili Ali ra. — Abu Musa al-Asy'ari — membuat kesalahan fatal dalam proses pemungutan suara. Ali ra. sendiri tidak pernah merestui keputusan ini dan tetap menegaskan bahwa beliau adalah khalifah yang sah. Sebagian pengikut Ali ra. yang tidak setuju dengan tahkim kemudian berpisah dan dikenal sebagai Khawarij — perpecahan yang akhirnya memuncak pada peristiwa Nahr al-Hanats di Najaf.
Warisan Siffin di Bumi Iraq
Perang Siffin meninggalkan warisan yang sangat mendalam bagi peradaban Islam. Konflik ini melahirkan dua aliran besar dalam tradisi Sunni dan Syiah yang masih kita kenal hingga kini. Iraq, yang menjadi medan konflik ini, kemudian menjadi arena sejarah Islam yang paling dramatis — dari pertempuran Siffin, hingga peristiwa Karbala yang mengoyak hati umat Islam selamanya.
Kini, ketika Anda berdiri di dataran Siffin dekat Najaf, angin panas yang berhembus seolah membawa bisikan-bisikan sejarah. Anda bisa merasakan betapa besarnya pengorbanan dan ujian yang dialami generasi pertama umat Islam dalam mempertahankan prinsip keadilan dan persatuan.
Jejak Ziarah: Baghdad → Najaf → Karbala
Sebagai bagian dari rute ziarah utama di Iraq, kawasan Siffin yang terletak di wilayah antara Najaf dan daerah timur Syria menjadi destinasi bermakna bagi para peziarah yang ingin memahami sejarah secara utuh. Berikut rute lengkapnya:
- Baghdad — Kota yang menjadi saksi keagungan peradaban Islam, rumah bagi makam-makam imam besar seperti Imam Abu Hanifah dan Imam Musa al-Kazhim ra.
- Najaf — Kota suci yang menampung Makam Sayyidina Ali ra., dekat dengan lokasi Pertempuran Siffin dan peristiwa Nahr al-Hanats.
- Karbala — Kota yang menyimpan duka mendalam atas syahidnya Sayyidina Husain ra. — cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Setiap langkah dalam rute ini adalah perjalanan menembus waktu, dari Baghdad yang megah hingga Najaf yang khidmat, lalu Karbala yang mengharu biru.
Ajakan Ziarah: Sentuh Sejarah dengan Hatimu
Sahabat-sahabat yang dirahmati Allah, sejarah Islam tidak layak hanya dibaca dari buku. Ia harus dirasakan — dirasakan melalui kaki yang melangkah, mata yang menatap, dan hati yang merenung. Datanglah ke Iraq. Berdirilah di dataran Siffin, bermunajat di Makam Ali ra. di Najaf, dan tangislah di ziarah Karbala. Semua ini adalah warisan kita bersama, potongan-potongan kisah luar biasa dari umat terbaik yang pernah ada.
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak mengingat Allah." — QS. Al-Ahzab [3]: 21
Semoga Allah SWT mengizinkan kita semua untuk menziarahi jejak-jejak suci ini, dan semoga perjalanan kita ke Baghdad, Najaf, dan Karbala menjadi amal yang mendekatkan diri kepada-Nya dan memperkuat cinta kita kepada Rasulullah saw. serta keluarganya yang mulia. Aamiin. 🤲