Masjid Al-Askari di kota Samarra, Irak, merupakan salah satu situs keagamaan paling suci dalam tradisi Syiah dan memiliki makna mendalam bagi seluruh umat Islam. Masjid ini menjadi pusat ziarah ribuan peziarah dari berbagai belahan dunia setiap tahunnya. Terletak di tepi Sungai Tigris, sekitar 125 kilometer utara Baghdad, Masjid Al-Askari adalah rumah bagi makam dua Imam Syiah: Imam Ali Al-Hadi (Imam ke-10) dan putranya Imam Hasan Al-Askari (Imam ke-11). Nama "Al-Askari" sendiri berasal dari kata Arab yang berarti "militer", mengacu pada fakta bahwa kota Samarra pada masa Kekhalifahan Abbasiyah merupakan pusat garnisun militer utama.
Sejarah Berdirinya Masjid Al-Askari
Sejarah Masjid Al-Askari dimulai pada abad ke-9 Masehi, ketika khalifah Abbasiyah Al-Mu'tasim (memerintah 833-842 M) memindahkan ibu kota kehadirahan dari Baghdad ke kota Samarra. Keputusan ini diambil setelah terjadi kerusuhan antara tentara Turki dan penduduk Baghdad, yang memaksa khalifah mencari lokasi baru yang lebih aman untuk markas militer. Samarra dipilih karena lokasinya yang strategis di tepi Sungai Tigris dan jauh dari kerusuhan kota. Pada tahun 247 Hijriyah (861 M), Khalifah Al-Mutawakkil memerintahkan pembangunan masjid besar di Samarra yang kemudian dikenal sebagai Masjid Jami' Samarra dengan menara spiral Malwiya yang ikonik. Namun Masjid Al-Askari berdiri di lokasi terpisah, dibangun di sekitar makam Imam Ali Al-Hadi yang wafat pada tahun 254 H (868 M).
Imam Ali Al-Hadi dipanggil ke Samarra oleh Khalifah Al-Mutawakkil pada tahun 236 H (850 M). Para sejarawan menyebutkan bahwa khalifah ingin mengawasi langsung Imam yang memiliki pengikut banyak ini. Imam dibawa dengan rombongan dari Madinah dan menetap di Samarra hingga wafatnya. Selama di Samarra, Imam Al-Hadi dan putranya Imam Hasan Al-Askari tinggal di rumah yang kemudian menjadi lokasi masjid ini. Rumah tersebut merupakan bangunan sederhana berada di kawasan yang dikenal sebagai "Askar" atau kamp militer, yang menjadi asal nama keluarga Al-Askari.
"Sesungguhnya Allah telah memilih kami sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW, dan menjadikan kami sebagai pemimpin umat ini. Dan Dia menjadikan surga sebagai balasan bagi yang mencintai kami, dan neraka sebagai balasan bagi yang membenci kami." — Imam Hasan Al-Askari
Makam Imam ke-10 dan ke-11
Makam Imam Ali Al-Hadi terletak di dalam kompleks Masjid Al-Askari, di ruangan utama yang dihiasi dengan kemegahan luar biasa. Imam Al-Hadi merupakan Imam Syiah ke-10, putra dari Imam Muhammad Al-Jawad (Imam ke-9). Beliau lahir di Madinah pada tahun 212 H (828 M) dan wafat di Samarra pada tahun 254 H (868 M). Selama masa imamahnya, beliau menghadapi tekanan besar dari pemerintahan Abbasiyah, namun tetap berhasil membimbing umat dan menyebarkan ilmu agama melalui surat-suratnya yang terkenal kepada para pengikut di berbagai wilayah kekhalifahan.
Makam Imam Hasan Al-Askari berada tepat di sebelah makam ayahandanya. Imam Hasan Al-Askari adalah Imam Syiah ke-11, lahir pada tahun 232 H (846 M) di Madinah dan wafat pada tahun 260 H (874 M) di Samarra. Beliau merupakan Imam terakhir yang terlihat secara fisik oleh umat sebelum kedatangan Imam Mahdi. Imam Hasan Al-Askari diawasi secara ketat oleh pemerintahan Abbasiyah, terutama di bawah khalifah Al-Mu'tadid dan Al-Muktafi yang curiga terhadap pengaruh beliau. Meskipun demikian, beliau tetap aktif dalam mengajar dan membimbing murid-muridnya secara sembunyi-sembunyi.
Kedua makam ini sejak abad ke-10 telah menjadi tempat ziarah utama bagi umat Muslim, khususnya dari mazhab Syiah. Para sejarawan abad pertengahan seperti Al-Muqaddasi (946-991 M) dan Ibn Jubayr (1145-1217 M) mencatat kemegahan masjid ini dan jumlah peziarah yang luar biasa banyak. Dalam catatan Ibn Battuta (1304-1369 M) yang melakukan perjalanan ke Samarra pada tahun 1327, ia menggambarkan masjid ini sebagai bangunan yang sangat megah dengan kubah emas dan perak yang menakjubkan, dikelilingi oleh taman-taman indah dan kolam-kolam air.
Tragedi Pengeboman Kubah Emas 2006
Pada tanggal 22 Februari 2006, Masjid Al-Askari mengalami tragedi yang mengguncang dunia Islam. Dua ledakan bom bunuh diri menghancurkan kubah emas (qubbat dhahabi) di atas makam Imam Ali Al-Hadi dan Imam Hasan Al-Askari yang telah berdiri megah selama hampir seribu tahun. Kubah emas tersebut merupakan simbol keindahan arsitektur Islam dan menjadi penanda yang terlihat dari jarak kilometer. Peristiwa ini memicu konflik sektarian terburuk di Irak sejak jatuhnya rezim Saddam Hussein pada tahun 2003.
Kelompok teroris yang menamakan diri sebagai Negara Islam Irak (dikenal sebagai Al-Qaeda di Irak pimpinan Abu Musab Al-Zarqawi) mengaku bertanggung jawab atas serangan ini. Tujuan utama serangan ini adalah memicu perang sektarian antara komunitas Sunni dan Syiah di Irak. Dampak serangan ini memang sangat dahsyat: dalam beberapa hari setelah peristiwa, lebih dari 100 orang tewas dalam kerusuhan sektarian di berbagai kota di Irak. Masjid-masjid Sunni diserang sebagai balasan, dan kekerasan terus berlangsung selama berminggu-minggu.
Pada tanggal 13 Juni 2007, serangan kedua terjadi yang menghancurkan menara barat dan selatan masjid, serta merusak bagian dalam makam secara signifikan. Serangan kedua ini semakin memperparah situasi keamanan di Irak dan menegaskan ancaman terhadap warisan budaya dan keagamaan negara tersebut. Kerusakan yang diakibatkan oleh kedua serangan ini sangat parah dan membutuhkan upaya rekonstruksi yang sangat besar dan kompleks.
Rekonstruksi dan Pemulihan
Setelah tragedi pengeboman 2006 dan 2007, pemerintah Irak dan berbagai organisasi internasional bekerja sama untuk merekonstruksi Masjid Al-Askari. Proyek rekonstruksi dimulai secara resmi pada tahun 2009 dengan bantuan dari Turki yang menyumbangkan uang sebesar 50 juta dolar AS. Arsitek Turki memimpin proyek rekonstruksi dengan menggunakan material dan teknik yang mendekati aslinya. Proyek ini menjadi salah satu proyek restorasi warisan budaya terbesar di Timur Tengah.
Kubah emas baru selesai dipasang pada tahun 2015, dengan ketinggian dan diameter yang sama dengan kubah asli. Kubah baru ini dilapisi dengan 72 kilogram emas murni, sama seperti berat kubah asli yang dihancurkan. Proses pelapisan emas dilakukan oleh para pengrajin Turki yang merupakan ahli dalam teknik kubah emas tradisional. Di sekeliling kubah, dipasang 140.000 keping emas berukir yang menampilkan kaligrafi Al-Quran dan ornamen geometris khas arsitektur Islam
Pada tanggal 25 Maret 2021, pemerintah Irak secara resmi membuka kembali Masjid Al-Askari kepada peziarah setelah 15 tahun ditutup untuk rekonstruksi. Peresmian ini dihadiri oleh Perdana Menteri Irak Mustafa Al-Kadhimi dan dihadiri oleh ribuan peziarah yang datang dari seluruh Irak dan luar negeri. Kembali dibukanya masjid ini menjadi momen bersejarah dan penuh haru bagi umat Muslim, khususnya komunitas Syiah yang telah menanti selama bertahun-tahun.
- Lokasi: Samarra, Provinsi Saladin, Irak, 125 km utara Baghdad
- Dibangun: Abad ke-9 Masehi, sekitar tahun 247 H
- Makam: Imam Ali Al-Hadi (Imam ke-10) dan Imam Hasan Al-Askari (Imam ke-11)
- Kubah emas: Dilapisi 72 kg emas murni
- UNESCO: Termasuk dalam Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 2007
- Kerusakan: Dibom pada 22 Februari 2006 dan 13 Juni 2007
- Rekonstruksi: Selesai pada tahun 2015, dibuka kembali 25 Maret 2021
- Biaya rekonstruksi: Sekitar 200 juta dolar AS
Tips Ziarah ke Masjid Al-Askari
Bagi peziarah yang ingin mengunjungi Masjid Al-Askari, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan. Pertama, masjid ini buka setiap hari dari subuh hingga isya, dan waktu terbaik untuk berkunjung adalah di luar jam shalat berjamaah untuk menghindari kerumunan. Kedua, peziarah harus berpakaian sopan; perempuan diwajibkan mengenakan jilbab dan jubah hitam yang biasanya disediakan di pintu masuk. Ketiga, kamera dan handphone diperbolehkan masuk namun pengambilan gambar di area makam tertentu mungkin dibatasi.
Keamanan di sekitar masjid sangat ketat dengan adanya penjagaan militer dan polisi 24 jam. Peziarah akan melalui beberapa pos pemeriksaan sebelum memasuki kompleks. Disarankan untuk datang dengan pemandu lokal yang terpercaya, terutama bagi yang pertama kali berkunjung. Untuk akses dari Baghdad, peziarah dapat menggunakan bus langsung dari Terminal Ziyarat di Baghdad atau menyewa kendaraan pribadi. Perjalanan memakan waktu sekitar 1,5 hingga 2 jam tergantung kondisi jalan dan keamanan.
Makna Spiritual dan Kekinian
Masjid Al-Askari bukan sekadar monumen sejarah, tetapi merupakan pusat kehidupan spiritual yang terus berdenyut. Setiap tahun, jutaan peziarah dari Irak, Iran, Lebanon, Bahrain, India, Pakistan, Afghanistan, dan negara-negara lain datang untuk berziarah ke makam kedua Imam ini. Puncak kunjungan terjadi pada peringatan wafat Imam Hasan Al-Askari pada tanggal 8 Rabiul Akhir dan peringatan syahidnya Imam Ali Al-Hadi pada tanggal 15 Jumadil Akhir.
Rekonstruksi Masjid Al-Askari setelah tragedi 2006 menjadi simbol ketahanan dan keberanian masyarakat Irak dalam mempertahankan warisan keagamaan dan budaya mereka. Meskipun mengalami kerusakan parah, masjid ini bangkit kembali dengan kemegahan yang bahkan melebihi sebelumnya. Kisah Masjid Al-Askari mengajarkan tentang keteguhan iman, pentingnya menjaga warisan leluhur, dan kekuatan komunitas dalam menghadapi tantangan sejarah yang berat. Bagi peziarah modern, mengunjungi masjid ini bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual yang menghubungkan mereka dengan sejarah panjang peradaban Islam di Irak.