Masjid Nabi Yunus di kota Mosul, Irak utara, merupakan salah satu situs keagamaan paling bersejarah dan kontroversial dalam sejarah modern Timur Tengah. Masjid ini diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhir Nabi Yunus (Jonah) AS, nabi yang dikenal dalam tradisi Islam, Kristen, dan Yahudi. Pada tahun 2014, kelompok teroris ISIS menghancurkan masjid ini dan makam Nabi Yunus secara total, dalam aksi perusakan warisan budaya yang mengguncang dunia internasional. Namun, di balik reruntuhan tersebut, penemuan arkeologis yang luar biasa telah mengungkap lapisan sejarah ribuan tahun yang terkubur di bawah masjid.

Sejarah Masjid Nabi Yunus di Mosul

Masjid Nabi Yunus telah berdiri di lokasinya selama berabad-abad, namun bangunan yang berdiri sebelum dihancurkan pada tahun 2014 merupakan hasil renovasi dan pembangunan ulang dari berbagai periode sejarah. Tradisi lokal menyebutkan bahwa masjid ini awalnya dibangun pada masa pemerintahan Kekhalifahan Umayyah atau awal Abbasiyah, dan telah mengalami beberapa kali renovasi selama masa Dinasti Zengid, Ayyubiyah, Mamluk, dan Utsmaniyah.

Lokasi masjid ini sangat istimewa karena berada di atas Bukit Nabi Yunus, yang merupakan bagian dari kompleks kota kuno Niniwe (Nineveh), ibu kota Kekaisaran Asiria. Niniwe merupakan salah satu kota tertua di dunia yang telah dihuni sejak sekitar 6000 SM. Kota ini pernah menjadi pusat kekuasaan Kekaisaran Asiria di bawah raja-raja seperti Sennacherib (705-681 SM) dan Ashurbanipal (669-631 SM). Bukit di mana masjid berdiri diperkirakan merupakan lokasi istana kerajaan Asiria yang kemudian ditutup oleh lapisan tanah dan reruntuhan selama ribuan tahun.

Dalam tradisi Islam, Nabi Yunus AS diutus untuk memberi peringatan kepada penduduk kota Niniwe (yang disebut "Ninawa" dalam teks Islam) agar kembali kepada jalan Allah. Ketika penduduk kota menolak peringatannya, Nabi Yunus meninggalkan kota dengan marah. Allah kemudian menelanjanginya di dalam perut ikan paus besar (kanun) selama tiga hari tiga malam, sebagaimana yang diceritakan dalam Al-Quran Surah Al-Anbiya ayat 87-88.

"Dan Zu Nun (Nabi Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (di dalam perut ikan itu), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: Tiada sesembahan melainkan Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang yang zalim." — Al-Quran Surah Al-Anbiya: 87

Penghancuran oleh ISIS pada Tahun 2014

Pada tanggal 24 Juli 2014, kelompok teroris yang menamakan diri Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS/Daulah Islamiyah) menghancurkan Masjid Nabi Yunus dan makam Nabi Yunus di dalamnya dengan bahan peledak. Peristiwa ini terjadi beberapa minggu setelah ISIS merebut kota Mosul pada bulan Juni 2014, ketika kelompok ini mengusir pasukan Irak dan mengklaim kota terbesar kedua di Irak tersebut.

Penghancuran ini merupakan bagian dari kampanye perusakan besar-besaran oleh ISIS terhadap situs-situs keagamaan dan budaya yang dianggap "bid'ah" atau "penyembahan berhala" oleh kelompok ini. Selain Masjid Nabi Yunus, ISIS juga menghancurkan Masjid Nabi Yunus di Mosul, makam Nabi Syit, makam Nabi Yunus, makam Nabi Syuaib, dan banyak situs bersejarah lainnya. Aksi ini dikutuk secara luas oleh komunitas internasional, termasuk oleh UNESCO yang menyebutnya sebagai "kejahatan perang terhadap warisan budaya manusia."

Yang ironis adalah bahwa banyak ulama dan cendekiawan Muslim sendiri mengkritik keputusan ISIS ini. Beberapa ulama Sunni terkemuka, termasuk Grand Mufti Mesir Sheikh Ahmed Al-Tayeb, secara terbuka mengecam penghancuran tersebut dan menyatakan bahwa ziarah makam para nabi dan orang saleh merupakan bagian dari tradisi Islam yang sah dan terpuji.

Penemuan Arkeologis di Bawah Reruntuhan

Setelah pembebasan Mosul dari ISIS pada tahun 2017, tim arkeolog Irak dari Departemen Purbakala dan Warisan memulai ekskavasi di lokasi reruntuhan Masjid Nabi Yunus. Penemuan yang terungkap sungguh luar biasa: di bawah masjid, para arkeolog menemukan sisa-sisa istana Asiria yang megah dari masa Raja Sennacherib (abad ke-7 SM).

Penemuan ini mencakup beberapa artefak penting, termasuk prasasti batu dengan tulisan楔形 (cuneiform) yang mengidentifikasi situs tersebut sebagai bagian dari Istana Raja Sennacherib di Niniwe. Ditemukan juga relief batu yang menggambarkan adegan-adegan perang, upacara keagamaan, dan kehidupan istana Asiria. Beberapa artefak ini memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi karena memberikan bukti langsung tentang kehidupan di Niniwe, kota yang pernah menjadi kota terbesar di dunia pada masanya.

Upaya Rekonstruksi

Pemerintah Irak, khususnya di bawah Perdana Menteri Mustafa Al-Kadhimi, berkomitmen untuk merekonstruksi Masjid Nabi Yunus. Pada tahun 2020, Al-Kadhimi mengunjungi lokasi dan mengumumkan rencana rekonstruksi masjid ini sebagai bagian dari upaya pemulihan warisan budaya Mosul. Rencana rekonstruksi mempertimbangkan untuk membangun kembali masjid sambil tetap mempertahankan dan menampilkan artefak Asiria yang ditemukan di bawahnya, menciptakan semacam museum bawah tanah yang menggabungkan warisan Islam dan pra-Islam.

Proyek rekonstruksi ini mendapat dukungan dari berbagai organisasi internasional termasuk UNESCO, Aliph Foundation, dan beberapa negara seperti Uni Emirat Arab yang menyumbang dana besar untuk restorasi warisan budaya Mosul.

Tips Ziarah ke Mosul dan Situs Nabi Yunus

Meskipun Mosul telah dibebaskan dari ISIS sejak tahun 2017, keamanan di kota ini masih memerlukan perhatian ekstra. Peziarah dan wisatawan yang ingin mengunjungi Mosul disarankan untuk:

Makna Perjalanan ke Situs Nabi Yunus

Mengunjungi situs Masjid Nabi Yunus di Mosul adalah pengalaman yang sangat mendalam secara spiritual dan intelektual. Di sini, peziarah dapat merasakan perjumpaan antara tiga peradaban besar: peradaban Asiria kuno yang pernah menguasai dunia, peradaban Islam yang mengubah wajah Timur Tengah, dan realitas kontemporer konflik dan pemulihan. Situs ini mengajarkan tentang kesabaran Nabi Yunus AS yang menjadi inspirasi bagi umat manusia, tentang kekejaman perang yang menghancurkan warisan budaya, dan tentang harapan pemulihan yang selalu muncul setelah kehancuran.

Bagi umat Muslim, ziarah ke situs ini merupakan pengingat akan cerita Nabi Yunus yang sangat menginspirasi tentang tobat, kesabaran, dan rahmat Allah yang tak terbatas. Nabi Yunus mengajarkan bahwa tidak ada manusia yang terlalu jauh dari rahmat Allah, dan bahwa kesabaran dalam menghadapi cobaan akan selalu berujung pada kebaikan. Situs ini, meskipun sedang dalam masa rekonstruksi, tetap menjadi tempat yang penuh makna bagi siapa saja yang mencari inspirasi dan kedekatan dengan para nabi Allah.