🕌
Masjid Kufa: Masjid Tertua dalam Islam
Najaf & Imam Ali
Diterbitkan: 2026-09-22 | Ziarah Iraq | 7 menit baca

Masjid Kufa, atau yang dikenal juga sebagai al-Jami' al-Kabir fi Kufa, berdiri di tengah kota tua Kufa, Irak, tidak jauh dari kota suci Najaf. Masjid ini bukan sekadar bangunan ibadah biasa; ia menyimpan lapisan sejarah yang tebal dari masa-masa awal Islam, mulai dari pendirian kota Kufa sebagai kota garnisun pada masa Khalifah Umar ibn al-Khattab hingga menjadi markas besar Imam Ali bin Abi Thalib ketika memerintah dari Kufa. Bagi peziarah yang mengunjungi Najaf, perjalanan ke Masjid Kufa hampir selalu menjadi pelengkap wajib, karena kedekatan jarak dan betapa besarnya nilai sejarah yang dimiliki masjid ini.
Bagi penyimak dan penuntut ilmu Islam, Masjid Kufa menawarkan pengalaman yang berbeda dari masjid-masjid besar lainnya di kawasan Irak. Di sini, jejak para nabi, para imam, dan tokoh-tokoh penting dalam peradaban Islam terasa begitu nyata. Artikel ini akan membahas sejarah pendirian masjid, tempat-tempat bersejarah di dalamnya, perannya dalam perjalanan Islam, serta panduan praktis bagi peziarah yang ingin mengunjunginya.
Sejarah Singkat Masjid Kufa
Kota Kufa didirikan pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibn al-Khattab sebagai salah satu dari beberapa kota garnisun (amsar) yang dibangun di Irak. Umar memerintahkan Hazim ibn Zuhayr untuk membangun masjid utama di pusat kota, dan dari sinilah lahir Masjid Kufa yang hingga kini masih berdiri. Pada awalnya, masjid ini berfungsi sebagai pusat kegiatan pemerintahan, ibadah, dan pengumpulan umat di kota garnisun yang berkembang pesat tersebut. Setelah wafatnya Rasulullah ﷺ dan masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar, dan Utsman, Imam Ali ibn Abi Thalib memindahkan pusat pemerintahannya ke Kufa pada masa kekhalifahan beliau. Sejak saat itu, Masjid Kufa menjadi pusat aktivitas pemerintahan Islam yang sesungguhnya. Imam Ali sering berkhotbah dan memimpin shalat di dalamnya. Masjid ini kemudian menjadi saksi peristiwa-peristiwa penting, termasuk peristiwa penyembelihan yang menimpa Imam Ali ketika beliau sedang shalat di dalam masjid pada masa akhir kekhalifahannya. Selama berabad-abad sejak masa itu, Masjid Kufa mengalami kerusakan akibat peperangan, bencana alam, dan perubahan kekuasaan, namun selalu dibangun kembali oleh umat Muslim yang ingin melestarikannya.Bagi peziarah, mengunjungi Masjid Kufa bukan sekadar melihat batu dan dinding tua — ia adalah cara untuk menyentuh kembali momen-momen awal pembentukan peradaban Islam di tanah Irak.
Tempat-Tempat Bersejarah di Dalam Masjid
Masjid Kufa menyimpan sejumlah lokasi yang memiliki nilai sejarah dan spiritual tinggi. Di antaranya adalah mihrab Imam Ali, yaitu tempat yang ditandai sebagai bekas mihrab tempat Imam Ali berdiri ketika memimpin shalat. Mihrab ini menjadi salah satu penanda utama yang paling banyak dikunjungi peziarah di dalam masjid. Selain itu, terdapat juga tanda lokasi peristiwa penyembelihan Imam Ali, yang ditandai agar umat Muslim dapat mengenang peristiwa tersebut. Tidak hanya terkait dengan Imam Ali, Masjid Kufa juga menjadi rumah bagi beberapa maqam (tempat bersejarah) yang diasosiasikan dengan para nabi Allah, antara lain maqam Nabi Ibrahim, maqam Nabi Hud, dan maqam Nabi Dhul-Kifl. Keberadaan ketiga maqam ini menjadikan Masjid Kufa bukan hanya situs dari era Islam awal, melainkan juga terhubung dengan sejarah kenabian yang jauh lebih tua. Peziarah yang berkunjung dapat berziarah ketiga maqam tersebut dan merenungkan panjangnya sejarah dakwah tauhid di tanah Irak.Peran Masjid Kufa dalam Sejarah Islam
Peran Masjid Kufa tidak bisa dilepaskan dari peran Kufa sebagai pusat pemerintahan Islam. Ketika Imam Ali menjadikan Kufa sebagai ibu kota kekhalifahannya, masjid ini otomatis menjadi pusat kegiatan negara. Khutbah-khutbah Imam Ali yang terkenal dan penuh hikmah disampaikan dari mimbar masjid ini. Kufa juga menjadi pusat lahirnya berbagai aliran dan mazhab pemikiran Islam, karena banyaknya ulama dan sahabat Nabi yang tinggal dan mengajar di kota tersebut. Masjid Kufa juga menyaksikan peristiwa penting lainnya dalam sejarah Islam, termasuk bagaimana umat Muslim menghadapi berbagai tantangan internal maupun eksternal. Karena lokasinya yang strategis di pusat kota, masjid ini menjadi titik berkumpul utama warga ketika situasi membutuhkan gerakan kolektif. Dari sisi peradaban, Kufa dikenal sebagai kota yang melahirkan tradisi intelektual Islam yang kuat, dan Masjid Kufa menjadi jantung dari aktivitas tersebut. Peziarah yang ingin memahami konteks yang lebih luas tentang Kufa dan sekitarnya dapat membaca artikel Ziarah ke Kufa dan Masjid Sahlah untuk mengetahui lebih banyak tentang destinasi ziarah lain di kota ini. Bagi yang merencanakan kunjungan ke kawasan Irak secara menyeluruh, panduan Ziarah ke Najaf juga bisa menjadi referensi berguna sebelum melanjutkan perjalanan ke Kufa.Mengapa Masjid Kufa Penting bagi Peziarah
Dalam tradisi keyakinan Syiah, Masjid Kufa dikenal sebagai salah satu masjid yang paling utama setelah Masjid al-Haram di Makkah, Masjid an-Nabawi di Madinah, dan Masjid al-Aqsha di Yerusalem. Meskipun tingkatan keutamaan ini merupakan bagian dari tradisi keyakinan tertentu, yang tidak dapat disangkal adalah bahwa Masjid Kufa memang memiliki kedudukan historis yang sangat istimewa dalam sejarah Islam secara umum. Fakta bahwa ia didirikan pada masa kekhalifahan Umar dan menjadi markas Imam Ali menjadikannya situs yang memiliki nilai universal bagi seluruh umat Muslim. Bagi peziarah dari Indonesia, kunjungan ke Masjid Kufa menawarkan pengalaman spiritual yang berbeda. Berbeda dengan ziarah ke Makam Imam Ali di Najaf yang fokus pada doa dan permohonan di depan makam, ziarah ke Masjid Kufa memberikan kesempatan untuk shalat di masjid yang penuh sejarah, merenungkan jejak para nabi, dan mengenal lebih dekat kehidupan Imam Ali sebagai pemimpin dan pengajar. Jarak antara Najaf dan Kufa yang relatif dekat membuat keduanya mudah dikunjungi dalam satu hari ziarah yang sama. Untuk melengkapi kunjungan ke Kufa, peziarah juga dapat berkunjung ke Kompleks Makam Imam Ali yang tak jauh dari sana, dengan panduan lengkap di artikel Makam Imam Ali di Najaf. Kedua destinasi ini saling melengkapi dalam memberikan pemahaman yang utuh tentang kehidupan dan warisan Imam Ali di tanah Irak.Ringkasan dan Fakta Penting
| Aspek | Ringkasan |
|---|---|
| Nama lain | al-Jami' al-Kabir fi Kufa (Masjid Agung di Kufa) |
| Lokasi | Kota Kufa, Provinsi Najaf, Irak |
| Pendiri | Dibangun pada masa Khalifah Umar ibn al-Khattab, disupervisi oleh Hazim ibn Zuhayr |
| Peran utama | Pusat ibadah dan markas pemerintahan Imam Ali ibn Abi Thalib |
| Tempat bersejarah | Mihrab Imam Ali, lokasi peristiwa penyembelihan, maqam Nabi Ibrahim, maqam Nabi Hud, maqam Nabi Dhul-Kifl |
| Kondisi bangunan | Mengalami beberapa kali pembongkaran dan pembangunan ulang sepanjang sejarah |
| Jarak dari Najaf | Sekitar 50 km; mudah diakses dalam satu hari ziarah |
| Keutamaan | Dikenal sebagai salah satu masjid paling utama dalam tradisi Islam tertentu |


