Pengantar: Masjid dengan Status Suci yang Diakui Dunia

Masjid Kufa bukan sekadar sebuah tempat ibadah biasa. Dalam kancah sejarah Islam, masjid ini menempati posisi yang sangat istimewa sebagai salah satu dari empat masjid utama dunia Islam, bersama Masjidil Haram di Makkah, Masjid Nabawi di Madinah, dan Masjid Al-Aqsha di Jerusalem. Status ini menegaskan betapa pentingnya Masjid Kufa dalam sejarah peradaban Islam — mulai dari masa Khulafaur Rasyidin hingga era modern.

Kota Kufa sendiri terletak di tepi barat Sungai Euphrates, sekitar 170 km dari Baghdad dan hanya beberapa kilometer dari kota suci Najaf. Kedekatan geografis ini menjadikan Masjid Kufa sebagai bagian integral dari rute ziarah bagi mereka yang mengunjungi Makam Imam Ali di Najaf. Namun, Masjid Kufa memiliki sejarah dan makna yang berdiri sendiri, tidak sekadar pelengkap dari perjalanan ziarah ke Najaf.

"Shalat di Masjid Kufa bernilai seratus ribu kali lipat dari shalat di masjid-masjid lain, kecuali Masjidil Haram dan Masjid Nabawi."
— Hadits Nabi Muhammad SAW, riwayat at-Tirmidzi

Kota Kufa sendiri terletak di tepi barat Sungai Euphrates, sekitar 170 km dari Baghdad dan hanya beberapa kilometer dari kota suci Najaf. Kedekatan geografis ini menjadikan Masjid Kufa sebagai bagian integral dari rute ziarah bagi mereka yang mengunjungi Makam Imam Ali di Najaf. Namun, Masjid Kufa memiliki sejarah dan makna yang berdiri sendiri, tidak sekadar pelengkap dari perjalanan ziarah ke Najaf.

Sejarah Pendirian: Khalifah Umar dan Proyek Besar Pertama

Masjid Kufa dibangun pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, Khalifah Kedua, sekitar tahun 23 Hijriyah (644 Masehi). Pendirian masjid ini merupakan bagian dari proyek pengembangan kota Kufa yang lebih besar, yang dimaksudkan untuk menjadi pusat administrasi dan militer Muslim di Irak. Umar bin Khattab menunjuk Sis bin Qais al-Ansari sebagai insinyur utama proyek ini, dan masjid dibangun dengan arsitektur yang sederhana namun megah untuk zamannya.

Masjid awal ini berbentuk persegi dengan luas sekitar 11.000 meter persegi. Dindingnya dibangun dari batu bata yang dipotong rapi, dan atapnya ditopang oleh deretan tiang-tiang besar yang terbuat dari batu. Arsitektur ini merupakan perpaduan antara tradisi pembangunan Arab dan teknik konstruksi Persia yang sudah maju di wilayah Irak saat itu. Seiring berjalannya waktu, masjid ini mengalami beberapa kali renovasi dan perluasan, termasuk pada masa Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah.

Ali bin Abi Talib dan Masjid Kufa: Pusat Imamah

Masjid Kufa memiliki arti yang sangat mendalam dalam sejarah Syiah karena hubungannya yang sangat erat dengan Imam Ali bin Abi Talib, khalifah keempat sekaligus imam pertama dalam tradisi Syiah. Ketika Ali berpindah dari Madinah ke Kufa pada tahun 36 Hijriyah (656 Masehi), Masjid Kufa menjadi pusat pemerintahan, pengajaran, dan keadilannya.

Ali menjadikan Masjid Kufa sebagai tempat untuk memberikan khutbah, mengadili sengketa, dan mengajarkan ilmu kepada murid-muridnya. Khutbah-khutbah Ali yang terkenal, yang kemudian dikumpulkan dalam kitab Nahj al-Balaghah (Jalan Elokuensi), sebagian besar disampaikan dari mimbar Masjid Kufa. Khutbah-khutbah ini mencakup berbagai topik: dari tafsir Al-Qur'an hingga etika kepemimpinan, dari tasawuf hingga politik. Hingga hari ini, Nahj al-Balaghah tetap menjadi salah satu teks paling berpengaruh dalam literatur Arab dan Islam.

Mihrab Imam Ali: Saksi Bisu Penyerangan

Salah satu titik paling sakral di Masjid Kufa adalah Mihrab Imam Ali — sebuah sudut di mana Ali bin Abi Talib sering berdiri untuk memimpin shalat. Pada tanggal 19 Ramadhan 40 Hijriyah (661 Masehi), saat Ali sedang memimpin shalat Subuh di masjid ini, seorang Khawarij bernama Abdurrahman bin Muljam menghantam kepalanya dengan pedang beracun. Ali terjatuh dan meninggal dunia beberapa hari kemudian. Mihrab ini kini menjadi salah satu titik ziarah paling penting di masjid ini, dan ribuan peziarah datang setiap tahun untuk berdoa di sini.

Penyerangan tragis ini menjadi salah satu peristiwa paling menyedihkan dalam sejarah Islam. Kematian Ali di tangan Khawarij menandai berakhirnya era Khulafaur Rasyidin dan membuka jalan bagi konflik-konflik yang lebih besar di kemudian hari. Mihrab ini menjadi pengingat abadi akan bahaya ekstremisme dan kepentingan menjaga keadilan dalam kepemimpinan.

Peristiwa-Peristiwa Bersejarah Lain di Masjid Kufa

Masjid Kufa adalah saksi bisu dari banyak peristiwa penting dalam sejarah Islam. Di antaranya adalah pelantikan Muawiyah bin Abi Sufyan sebagai gubernur Irak, pemberontakan Zaid bin Ali pada tahun 122 Hijriyah, dan berbagai peristiwa penting lainnya. Masjid ini juga menjadi tempat di mana Muslim bin Aqil, utusan Imam Husain, menggalang dukungan sebelum Pertempuran Karbala pada tahun 60 Hijriyah.

Muslim bin Aqil menyampaikan khutbah yang menggugah di hadapan ribuan jemaah di Masjid Kufa, dan ribuan orang berjanji setia kepada Imam Husain. Namun, janji itu akhirnya dikhianati oleh tekanan dan ancaman dari gubernur Kufa yang kejam, Ubaidillah bin Ziyad. Kejadian ini menjadi salah satu episode paling tragis dalam sejarah Kufa dan terus dikenang hingga hari ini.

Arsitektur dan Penampilan Modern

Masjid Kufa mengalami beberapa kali renovasi dan perluasan selama berabad-abad. Bentuk saat ini sebagian besar merupakan hasil renovasi pada era Dinasti Seljuk dan renovasi modern pada abad ke-20. Masjid ini memiliki empat menara (minaret) di sudut-sudutnya, masing-masing dengan gaya arsitektur yang berbeda. Menara-menara ini merupakan penambahan dari berbagai periode sejarah, dari era Dinasti Mamluk hingga era modern.

Interior masjid ditandai oleh ruangan luas dengan lantai marmer yang mengkilap, tiang-tiang besar yang ditopang oleh lengkungan-lengkungan, dan langit-langit yang dihiasi dengan pola-pola geometris dan kaligrafi Arab yang indah. Di bagian tengah masjid terdapat sebuah halaman terbuka yang dikelilingi oleh arcade (deretan lengkungan), mirip dengan arsitektur Masjidil Haram di Makkah. Berikut ringkasan fitur-fitur arsitektur utama Masjid Kufa:

FiturDetail
Luas Total~11.000 m² (luas area), ~29.600 m² (termasuk halaman)
Menara (Minaret)4 menara di sudut-sudut, dibangun pada periode berbeda
Halaman TerbukaDi tengah masjid, dikelilingi arcade lengkungan
MimbarMenampilkan Mihrab Ali dan berbagai hiasan kaligrafi
LantaiMarmer putih, direnovasi berkala
Arsitektur DominanGaya Sassanid-Islam awal dengan elemen Byzantine

Tips Berziarah ke Masjid Kufa

Bagi mereka yang berencana mengunjungi Masjid Kufa, berikut beberapa tips yang dapat membantu: