Muslim bin Aqil adalah salah satu figur paling tragis dan berpengaruh dalam sejarah Islam, terutama dalam konteks peristiwa Karbala. Sebagai sepupu sekaligus utusan Imam Husain bin Ali ke kota Kufa, Muslim memainkan peran krusial yang berujung pada pertempuran terkenal di Karbala pada tahun 61 Hijriyah (680 Masehi). Makamnya di kota Kufa menjadi salah satu situs ziarah utama bagi peziarah Muslim yang berkunjung ke Irak.
Siapa Muslim bin Aqil?
Muslim bin Aqil bin Abi Talib lahir pada tahun sekitar 38 Hijriyah (658 Masehi) di kota Madinah. Ia adalah putra dari Aqil bin Abi Talib, yang merupakan saudara laki-laki dari Ali bin Abi Talib, khalifah keempat dan menantu Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, Muslim adalah sepupu dari Imam Hasan dan Imam Husain, cucu-cucu Nabi Muhammad SAW. Muslim dibesarkan dalam lingkungan keluarga Bani Hasyim yang mulia, dan mengenal Islam dan ajaran-ajaran spiritualnya sejak kecil.
Muslim dikenal sebagai pemuda yang gagah berani, berilmu, dan memiliki karakter yang sangat mulia. Ia merupakan salah satu pengikut setia dari Imam Husain dan selalu siap untuk membela keluarga Nabi Muhammad SAW. Ketika Imam Husain menerima surat-surat dari penduduk Kufa yang mengajaknya datang ke kota mereka untuk memimpin pemberontakan terhadap kekuasaan Bani Umayyah yang dianggap dzalim, Imam Husain memilih Muslim sebagai utusan untuk pergi ke Kufa terlebih dahulu guna mengecek situasi dan mempersiapkan kedatangannya.
Perjalanan Muslim ke Kufa
Muslim bin Aqil berangkat dari Makkah ke Kufa pada bulan Syawal tahun 60 Hijriyah (Maret 680 M). Ia membawa serta surat Imam Husain kepada penduduk Kufa dan instruksi-instruksi penting untuk mempersiapkan kedatangan Imam. Ketika Muslim tiba di Kufa, ia disambut dengan antusiasme luar biasa oleh penduduk kota. Ribuan warga Kufa, yang sebagian besar adalah Syiah yang mendukung keluarga Nabi, berbai'at (sumpah setia) kepada Muslim dan berjanji akan mendukung Imam Husain.
Muslim mengirimkan surat kepada Imam Husain yang berisi kabar gembira bahwa penduduk Kufa telah siap mendukungnya. Dalam suratnya, Muslim menulis: "Telah berbai'at kepadaku lebih dari delapan belas ribu orang, dan aku telah menulis surat kepada mereka (keluarga Imam Husain) bahwa mereka telah siap." Angka ini menunjukkan besarnya dukungan yang diterima Muslim dari penduduk Kufa saat itu.
Namun, keadaan berubah drastis ketika gubernur Kufa yang baru, Ubaidillah bin Ziyad, tiba di kota. Ubaidillah adalah putra dari Ziyad bin Abih, seorang pemimpin kejam yang dikenal dengan kebrutalannya. Ubaidillah segera mengambil tindakan tegas untuk membubarkan dukungan kepada Imam Husain dan Muslim. Ia mengirimkan pasukan ke rumah-rumah penduduk yang mendukung Muslim dan mengancam mereka dengan hukuman mati jika tidak menyerahkan Muslim.
Kesyahidannya Muslim bin Aqil
Tekanan yang diberikan oleh Ubaidillah bin Ziyad berhasil memecah belah dukungan penduduk Kufa. Banyak dari mereka yang sebelumnya berbai'at kepada Muslim akhirnya menarik diri dan meninggalkannya. Dalam keadaan yang semakin terdesak, Muslim mencari perlindungan di rumah Al-Hani bin Urwah, salah satu bangsawan Kufa yang masih setia mendukungnya. Namun, Ubaidillah berhasil mengetahui keberadaan Muslim dan mengirimkan pasukan untuk mengepung rumah Al-Hani.
Muslim bin Aqil gugur syahid pada tanggal 9 Dzulhijjah 60 Hijriyah (9 Oktober 680 M) di kota Kufa, setelah bertempur dengan gagah berani melawan pasukan Ubaidillah bin Ziyad yang jauh lebih banyak. Dalam pertempuran tersebut, Muslim berhasil membunuh banyak tentara musuh sebelum akhirnya ia ditangkap dan dibawa ke istana gubernur.
Menurut riwayat, ketika Muslim dibawa ke hadapan Ubaidillah bin Ziyad, ia berkata dengan penuh keberanian: "Wahai musuh Allah, aku adalah Muslim bin Aqil, utusan Husain bin Ali, putra Rasulullah. Jika engkau membunuhku, maka aku akan datang kepadamu pada hari kiamat bersama Rasulullah dan Ali, Hasan, dan Husain." Ubaidillah memerintahkan agar Muslim dilemparkan dari atap istana, dan Muslim gugur syahid.
"Wahai musuh Allah, aku adalah Muslim bin Aqil, utusan Husain bin Ali. Jika engkau membunuhku, maka aku akan datang kepadamu pada hari kiamat bersama Rasulullah." — Muslim bin Aqil sebelum kesyahidannya
Makam Muslim bin Aqil di Kufa
Makam Muslim bin Aqil terletak di dalam kompleks Masjid Kufa yang megah, di dekat mihrab (tempat imam memimpin shalat) yang dikenal sebagai "Mihrab Muslim bin Aqil." Lokasi ini dipercaya sebagai tempat di mana jenazah Muslim diletakkan setelah kesyahidannya, atau setidaknya sebagai tempat yang berdekatan dengan lokasi kesyahidannya.
Kompleks makam ini telah mengalami beberapa renovasi selama berabad-abad. Pada masa pemerintahan Dinasti Safawi (1501-1736), dilakukan renovasi besar-besaran yang memberikan makam ini penampilan seperti yang terlihat saat ini, dengan kubah yang dihiasi keramik biru khas Safawi dan ornamen emas. Pada masa pemerintahan Saddam Hussein, makam ini juga mengalami beberapa perubahan, namun tetap dipertahankan karena nilai sejarah dan spiritualnya.
Saat ini, makam Muslim bin Aqil menjadi salah satu destinasi ziarah utama di Kufa. Peziarah dapat mengunjungi makam ini setiap hari, baik secara individu maupun dalam rombongan. Masjid Kufa, tempat makam ini berada, merupakan salah satu masjid tertua dan paling bersejarah di dunia Islam, menjadikan pengalaman ziarah semakin bermakna.
Pelajaran dari Kesyahidannya Muslim
Kisah Muslim bin Aqil mengandung pelajaran-pelajaran berharga tentang kesetiaan, keberanian, dan pengorbanan dalam membela kebenaran. Meskipun ia tahu bahwa misinya sangat berisiko, Muslim tetap menjalankan tugasnya dengan penuh dedikasi. Ketika dukungan penduduk Kufa berkurang, ia tidak menyerah atau lari, melainkan tetap berjuang hingga akhir hayatnya.
Bagi peziarah Indonesia yang mengunjungi makam Muslim bin Aqil di Kufa, kunjungan ini menjadi pengalaman yang sangat menyentuh hati. Di sini, mereka dapat merenungkan tentang makna kesetiaan, keberanian, dan pengorbanan yang ditunjukkan oleh Muslim bin Aqil. Kisahnya menjadi pengingat bahwa kebenaran tidak selalu menang dalam pertempuran fisik, tetapi selalu menang dalam pertempuran sejarah dan spiritual. Kunjungan ke makam Muslim bin Aqil, dikombinasikan dengan kunjungan ke Masjid Kufa dan situs-situs terkait Karbala lainnya, memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Islam.